Jumat, 15 Desember 2017

Lord Protector Jamak Lords Protector

                   Lord Protector (jamak: Lords Protector) adalah sebuah gelar yang digunakan dalam hukum konstitusional Inggris untuk kepala negara. Gelar tersebut juga merupakan sebutan gelar untuk kepala negara Inggris dalam menghormati gereja yang berdiri. Gelar tersebut terkadang digunakan untuk merujuk kepada para pemegang jabatan temporer lainnya, contohnya, regen yang bertindak saat penguasa tidak ada.

Regen Kerajaan Feodal Sunting

Gelar "The Lord Protector" awalnya digunakan oleh pangeran kerajaan atau anggota bangsawan lainnya yang memegang jabatan regen individual (bukan sebagai anggota dewan regen kolegial) saat penguasa Inggris masih minor atau ketidakmampuan lainnya untuk menjabat.

Kasus terkenal di Inggris adalah:

John, Adipati Bedford, dan Humphrey, Adipati Gloucester, (5 Desember 1422 – 6 November 1429) sama-sama menjadi Lord Protector untuk Henry VI (1421–1471);
Richard Plantagenet, Adipati York, menjadi Lord Protector untuk Henry VI sebanyak tiga kali (3 April 1454 – Februari 1455; 19 November 1455 – 25 Februari 1456; dan 31 Oktober–30 Desember 1460);
Richard, Adipati Gloucester, menjadi "Lord Protector of the Realm" (30 April 1483 – 26 Juni 1483), pada masa pemerintahan nominal Edward V (salah satu Princes in the Tower) sebelum mengklaim tahta tersebut untuk dirinya sendiri sebagai Richard III;
Edward Seymour, Adipati Somerset, menjadi Lord Protector (1547–49), pada masa awal pemerintahan Edward VI muda;
dan di Skotlandia:

John Stuart, Adipati Albany, menjadi "Governor and Protector of the Realm" (12 Juli 1515 – 16 November 1524) untuk James V dari Skotlandia (1512–42);
James Hamilton, Earl of Arran, menjadi "Governor and Protector of the Kingdom" (3 Januari 1543 – 12 April 1554) untuk Mary, Ratu Skotlandia.

Kamis, 14 Desember 2017

Pencipta Bola Basket

                     James Naismith (lahir di Almonte, Canada West (kini bagian dari Ontario), 6 November 1861 – meninggal di Lawrence, 28 November 1939 pada umur 78 tahun) adalah penemu olahraga bola basket dan orang pertama yang memperkenalkan pemakaian helm dalam olahraga American football.

Dr. James Naismith

Lahir 6 November 1861
Almonte, Provinsi Canada, Kerajaan Britania
Meninggal 28 November 1939 (umur 78)
Lawrence, Kansas, Amerika Serikat
Gelar Head coach; Athletic Director
Penghargaan Naismith Memorial Basketball Hall of Fame
FIBA Hall of Fame
Canadian Basketball Hall of Fame
Canadian Olympic Hall of Fame
Canadian Sports Hall of Fame
Ontario Sports Legends Hall of Fame
Ottawa Sports Hall of Fame
McGill University Sports Hall of Fame
Kansas State Sports Hall of Fame
Inventor of Basketball
Saat bekerja sebagai guru pendidikan jasmani di YMCA International Training School di Springfield, Massachusetts pada tahun 1891, ia diajak untuk mencari cara untuk menghilangkan kebosanan yang dialami murid-muridnya dalam pelajaran olahraga saat musim dingin. Terinspirasikan sebuah permainan yang pernah ia mainkan saat kecil di Ontario, Naismith menciptakan permainan yang kemudian dikenal sebagai bola basket pada 15 Desember 1891. Pada awalnya, setiap tim berjumlah sembilan orang dan tidak ada dribble, sehingga bola hanya dapat berpindah tangan melalui pass (lemparan).

Pada Agustus 1936, saat menghadiri Olimpiade Berlin 1936, ia dinamakan sebagai Presiden Kehormatan Federasi Bola Basket Internasional. Terlahir sebagai warga Kanada, ia menjadi warga negara Amerika Serikat pada 4 Mei 1925.

Naismith meninggal dunia 28 November 1939, kurang dari enam bulan setelah menikah untuk kedua kalinya.

Pranala luar

(Inggris) Biografi Naismith
(Inggris) Situs web Yayasan Naismith
(Inggris) Tiga belas peraturan asli bola basket oleh Dr. James Naismith
(Inggris) Situs web tim basket lelaki Universitas Kansas
(Inggris) Heritage Minutes: Dr. James Naismith

Asal Mula Kabupaten Lumajang

                  Kabupaten Lumajang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Lumajang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo di utara, Kabupaten Jember di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Malang di barat. Kabupaten Lumajang terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Kabupaten Lumajang

Lambang Kabupaten Lumajang
Moto: Amreta Brata Wira Bhakti
Julukan: Oostenrijk van Java
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Peta lokasi Kabupaten Lumajang di Jawa Timur
Koordinat: 112°53' - 113°23' Bujur Timur dan 7°54' - 8°23' Lintang Selatan
Provinsi Jawa Timur
Dasar hukum Keputusan Bupati Kepala Derah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990
Tanggal peresmian 20 Oktober 1990
Ibu kota Lumajang
Pemerintahan
- Bupati Drs. H. As'at Malik, M.Ag
- DAU Rp. 828.524.528.000.-(2013)[1]
Luas 1.790,90 km2
Populasi
- Total 1,006,458 jiwa (2010)[2]
- Kepadatan 0 jiwa/km2
Demografi
- Suku bangsa Jawa, Madura, dll.
- Agama Islam, Katholik, Kristen, dll.
- Bahasa Indonesia, Jawa, Madura.
- Kode area telepon 0334
Pembagian administratif
- Kecamatan 21
- Kelurahan 204
Simbol khas daerah
Situs web www.lumajang.go.id

Alun-alun Lumajang (1880-1920)
Sejarah pemerintahan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Lumajang

Sisa-sisa Candi Kunir, ditemukan tahun 2013
Nama Lumajang berasal dari nama tempat "Lamajang" yang diketahui dari penelusuran sejarah, data prasasti, naskah-naskah kuno, bukti-bukti petilasan dan hasil kajian pada beberapa seminar dalam rangka menetapkan hari jadinya. Beberapa sumber itu antara lain:

Prasasti Mula Malurung
Naskah Negarakertagama
Kitab Pararaton
Kidung Harsawijaya
Kitab Bujangga Manik
Serat Babad Tanah Jawi
Serat Kandha
Prasasti Mula Malurung adalah prasasti tertua yang menyebut keberadaan "Nagara Lamajang", karenanya dianggap sebagai titik tolak hari jadi Lumajang. Prasasti yang ditemukan pada tahun 1975 di Kediri dan berangka 1177 tahun Saka ini diterbitkan oleh Raja Kertanegara dari Singasari untuk memperingati anugerah Raja Seminingrat kepada Pranaraja berupa dua desa perdikan, Mula dan Malurung. Prasasti ini terdiri dari 12 lempengan tembaga, dan lempengan VII halaman A memuat nama-nama putera-puteri dan kerabat Raja Seminingrat yang diangkat menjadi raja-raja bawahan. Salah satunya, disebutkan bahwa Nararya Kirana yang telah dianggap seolah-olah putera sang Prabu, dijadikan raja di Lumajang.[3] Menurut prasasti tersebut penetapan itu terjadi pada tahun 1177 Saka, yang sesuai dengan tanggal 14 Dulkaidah 1165 tahun Jawa atau tanggal 15 Desember 1255 Masehi.

Mengingat cukup meyakinkan bahwa pada 1255 M itu "Negara Lamajang" sudah merupakan sebuah negara yang berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255 M sebagai hari jadi Lumajang yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990.

Dalam sejarahnya, wilayah ini sangat berhubungan dengan tokoh sejarah bernama Aria Wiraraja. Kitab Pararaton dan Harsawijaya mengisahkan bahwa tokoh yang ketika muda bernama Banyak Wide ini pada mulanya mengabdi di Singasari, namun oleh Raja Kertanegara kemudian dibuang secara halus dari ibukota Singasari dan dijadikan bupati di Sumenep, Madura timur. Aria Wiraraja kemudian berkesempatan memberikan bantuan dan perlindungan kepada Raden Wijaya ketika ia dan rombongannya melarikan diri ke Sumenep akibat kalah perang dengan Jayakatwang. Selanjutnya Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan bahwa Wiraraja diberi hadiah wilayah bagian timur Jawa Timur yang diberi nama "Lamajang Tigang Juru", ketika Raden Wijaya berhasil memenangkan perang dan menjadi raja pertama di kerajaan Majapahit. Akan tetapi wilayah itu baru dikuasai dan diperintahnya setelah kematian puteranya, Ranggalawe, yang memberontak kepada Majapahit (1295).[4]

Wilayah Lumajang kembali disebut-sebut dala

Pertempuran Tikarmeron

                 Pertempuran Tikameron terjadi pada 15 Desember 533 antara tentara Vandal di bawah pimpinan Raja Gelimer dan saudaranya Tzazo dengan Kekaisaran Romawi Timur (belakangan dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium), di bawah perintah Jenderal Belisarius. Perang ini terjadi setelah kekalahan Gelimer di Pertempuran Ad Decimum, dan berhasil melenyapkan kekuatan Vandals selamanya, menuntaskan penaklukan kembali Afrika Utara oleh Kaisar Yustinianus I.

Pertempuran Tikameron
Bagian dari Perang Vandal
Tanggal 15 Desember 533
Lokasi Dekat Kartago
Hasil Kemenangan Bizantium
Pihak terlibat
Kekaisaran Bizantium Kerajaan Vandal
Tokoh dan pemimpin
Flavius Belisarius Gelimer
Kekuatan
10.000 infantri, 5.000 kavaleri 50.000
Korban
Tidak diketahui 3.000
Setelah diusir dari Kartago. Gelimer menyiapkan diri di Bulla Regia di Numidia, sekitar 100 mil arah Barat Kartago (sekarang perbatasan bagian Barat Tunisia). Ia tahu bahwa dengan keadaannya sekarang, ia tidak akan mampu menghadapi kekuatan Belisarius. Oleh karena itu ia mengirim utusan ke saudaranya Tzazo di Sardinia. Ketika menerima pesan tersebut, Tzazo kembali ke Afrika untuk bergabung dengan Gelimer.

Sementara itu, Gelimer berusaha memisahkan kekuatan-kekuatan yang membantu Belisarius. Ia menawarkan hadiah kepada suku-suku lokal (Punic dan Berber) untuk setiap kepala orang Romawi yang dapat mereka kumpulkan, serta mengiriman agen ke Kartago untuk memengaruhi pasukan bayaran Hun; yang penting bagi Balisarius di Ad Decimum; untuk menghianatinya.

Tzazo dan pasukannya bergabung dengan Gelimer pada awal Desember, sehingga Gelimer merasa telah cukup kuat untuk melakukan serangan. Dengan dipimpin dua orang bersaudara tersebut, pasukan Vandal dalam perjalanannya ke Kartago, menghancurkan aquaduct yang menyuplai air ke kota tersebut.

Belisarius telah bertahan di kota tersebut selama 12 minggu sejak Ad Decimum, tetapi telah mengetahui mengenai agen Gelimer sehingga tidak mempercayai lagi Hun di pasukannya. Daripada menunggu dikhianati, ia menyiapkan pasukannya dan keluar dengan pasukan kavaleri di bagian depan, dan Hun berada di kolom bagian belakang.

Dua kekuatan tersebut bertemu di luar kota Kartago. Kavaleri Roma menyerbu barisan Vandal, menyusun diri kembali dan menyerang hingga dua kali lagi. Pada serbuan ketiga, Tzazo terbunuh. Seperti yang terjadi di Ad Decimum, Gelimer ciut nyalinya. Barisan Vandal mulai mundur, dan akhirnya bubar. Gelimer kembali ke Numidia dengan pasukannya yang tersisa; yang telah kehilangan 3.000 orang (tewas ataupun tertangkap). Belisarius kemudian kembali ke kota Hippo Regius.

Gelimer menyadari bahwa kerajaannya telah hilang dan berusaha kabur ke Spanyol di mana masih terdapat Vandal, yang tidak mengikuti pasukan utama ketika menyeberang ke Afrika Utara bertahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, Romawi mengetahui hal tersebut dan memotong jalannya. Pada tahun berikutnya, ia telah dikepung oleh pasukan Romawi yang dipimpin Pharas the Herulian. Pada awalnya, ia menolak untuk menyerah, walaupun telah dijanjikan agar boleh tetap berkuasa. Setelah musim dingin yang buruk, ia akhirnya menyerah pada Belisarius. Kerajaan Vandal berakhir, provinsinya di Sardinia, Korsika dan Pulau Balearic berada di bawah kekuasaan Yustinianus.

Rabu, 13 Desember 2017

Voc Pada Masa Deandles

Pemerintahan Herman Williem Daendels (1808-1811)
H.W. Daendels sebagai Gubernur Jenderal
memerintah di Nusantara pada tahun
1808-1811. Tugas utama Daendels adalah
mempertahankan Jawa agar tidak dikuasai
Inggris. Sebagai pemimpin yang ditunjuk oleh
Pemerintahan Republik Bataaf, Daendels harus
memperkuat pertahanan dan juga memperbaiki
administrasi pemerintahan, serta kehidupan
sosial ekonomi di Nusantara khususnya di tanah
Jawa.
Daendels adalah kaum patriot dan liberal dari
Belanda yang sangat dipengaruhi oleh ajaran
Revolusi Perancis. Di dalam berbagai pidatonya,
Daendels tidak lupa mengutip semboyan Revolusi Perancis. Daendels ingin
menanamkan jiwa kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan di lingkungan
masyarakat Hindia. Oleh karena itu, ia ingin memberantas praktik-praktik
feodalisme. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat lebih dinamis dan produktif
untuk kepentingan negeri induk (Republik Bataaf). Langkah ini juga untuk
mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan sekaligus membatasi hak-hak
para bupati yang terkait dengan penguasaan atas tanah dan penggunaan
tenaga rakyat.
Dalam rangka mengemban tugas sebagai

Selasa, 12 Desember 2017

Masa Pemerintahan Republik Bataaf

Masa Pemerintahan Republik Bataaf
Pada tahun 1795 terjadi perubahan di Belanda. Muncullah kelompok yang
menamakan dirinya kaum patriot. Kaum ini terpengaruh oleh semboyan
Revolusi Perancis: liberte (kemerdekaan), egalite (persamaan), dan fraternite
(persaudaraan). Berdasarkan ide dan paham yang digelorakan dalam Revolusi
Perancis itu maka kaum patriot menghendaki perlunya negara kesatuan.
Bertepatan dengan keinginan itu pada awal tahun 1795 pasukan Perancis
menyerbu Belanda. Raja Willem V melarikan diri ke Inggris. Belanda dikuasai
Perancis. Dibentuklah pemerintahan baru sebagai bagian dari Perancis yang
dinamakan Republik Bataaf (1795-1806). Sebagai pemimpin Republik Bataaf
adalah Louis Napoleon saudara dari Napoleon Bonaparte.
Sementara itu dalam pengasingan, Raja Willem V oleh pemerintah Inggris
ditempatkan di Kota Kew. Raja Willem V kemudian mengeluarkan perintah
yang terkenal dengan “Surat-surat Kew”. Isi perintah itu adalah agar para
penguasa di negeri jajahan Belanda menyerahkan wilayahnya kepada Inggris
bukan kepada Perancis. Dengan “Surat-surat Kew” itu pihak Inggris bertindak
cepat dengan mengambil alih beberapa daerah di Hindia seperti Padang pada
tahun 1795, kemudian menguasai Ambon dan Banda tahun 1796. Inggris
juga memperkuat armadanya untuk melakukan blokade terhadap Batavia.
» Mengapa Inggris melakukan blokade terhadap Batavia? Coba
jelaskan makna politis dari upaya blokade itu.
Sudah barang tentu pihak Perancis dan Republik Bataaf juga tidak ingin
ketinggalan untuk segera mengambil alih seluruh daerah bekas kekuasaan
VOC di Kepulauan Nusantara. Karena Republik Bataaf ini merupakan vassal dari Perancis, maka kebijakan-kebijakan Republik Bataaf untuk mengatur
pemerintahan di Hindia masih juga terpengaruh oleh Perancis. Kebijakan
yang utama bagi Perancis waktu itu adalah memerangi Inggris. Oleh karena
itu, untuk mempertahankan Kepulauan Nusantara dari serangan Inggris
diperlukan pemimpin yang kuat. Ditunjuklah seorang muda dari kaum patriot
untuk memimpin Hindia, yakni Herman Williem Daendels. Ia dikenal sebagai
tokoh muda yang revolusioner.

Masa Pemerintahan Hindia Belanda

34 Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Semester 1
C. Mengevaluasi Penjajahan Pemerintah Hindia
Belanda
» Coba amati gambar di atas!
1. Tentu kamu banyak yang tahu, kira-kira gambar apa saja?
2. Apa kaitannya dengan pembahasan mengenai kolonialisme
dan imperialisme?
Tentu kamu sudah akrab dengan gambar-gambar di atas. Gambar itu adalah
gambar tanaman kopi, tembakau, dan tebu. Ketiga jenis tanaman itu sekarang
begitu populer di masyarakat Indonesia. Tembakau adalah bahan utama
untuk rokok. Sementara kopi kini menjadi minuman yang sangat terkenal
di kalangan rakyat Indonesia. Begitu juga tebu sebagai bahan pembuat gula
pasir. Sejak zaman kolonial di Indonesia telah berkembang penanaman kopi,
tembakau dan tebu. Ketiga jenis tanaman telah menjadi bahan ekspor.
Gambar 1.12 Kopi
Gambar 1.13 Perkebunan Tembakau
Sumber: www.pertanian.go.id
Gambar 1.14 Tebu
Sumber: www.pertanian.go.idKetiga jenis tanaman tersebut secara historis memiliki arti yang sangat
penting, ditambah dengan tanaman-tanaman yang lain seperti nila dan
karet. Tanaman tersebut telah menjadi tanaman pokok pada masa kolonial
di Indonesia, terutama pada era Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Pada masa
itu Indonesia berada di bawah penjajahan pemerintah kolonial Belanda.
Kebijakan Tanam Paksa ini telah menyengsarakan rakyat Indonesia. Nah,
bagaimana kehidupan rakyat pada masa penjajahan pemerintah kolonial,
berikut ini uraiannya tentang “Menganalisis Penjajahan Pemerintah Hindia
Belanda”.

Pengabdian Badan Pengawas Pemilu Surabaya 2020

Pengabdian Badan Pengawas Pemilu Surabaya 2020 Desember 26, 2020 Pengabdian untuk Negara di Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) (ahmad sodiq ana...