Selasa, 12 Desember 2017

Pertempuran Di Sulawesi Selatan Pembantaian Westerling

                       Pertempuran di Sulawesi Selatan ini berlangsung pada tanggal 25 Desember 1946 oleh pasukan Belanda dipimpin Kapten Raymond Westerling. Pada saat itu pasukan Belanda membantai ribuan rakyat Sulawesi Selatan. Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan. Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria. Fase kedua dimulai, yaitu mencari “kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh”. Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama “pemberontak” yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala adat dan kepala desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama “Standrecht” – pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh . Demikianlah “sweeping ala Westerling“. Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus.   Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang. Pembantaian itu dilakukan setelah terjadi pertempuran dengan pasukan Harimau Indonesia yang dipimpin Wolter Monginsidi di Barombong tanggal 3 November 1946. Setelah diadakan Konferensi Meja Bundar, Belanda , menghukum mati Robert Wolter Mongonsidi. Ia mengumandangkan semboyannya yang terkenal “Setia Hingga Terakhir Dalam Keyakinan” Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda melalui Duta Besarnya di Jakarta, Tjeerd de Zwaan, menyampaikan permintaan maafnya kepada seluruh korban pembantaian. Atas nama Pemerintah Belanda saya meminta maaf atas kejadian-kejadian ini. Hari ini saya juga meminta maaf kepada para janda. Mereka pun diberikan 20 ribu euro atau Rp 301 Juta. DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu Borong dan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi di Batua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.

Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.

Fase kedua dimulai, yaitu mencari "kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh". Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama "pemberontak" yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala adat dan kepala desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama "Standrecht" – pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.

Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan pada masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir "pemberontak, teroris dan perampok". Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.

Demikianlah "sweeping ala Westerling". Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.

Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran Kalukuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 Desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.

Tahap kedua Sunting
Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polobangkeng yang terletak di selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan Ko'mara. Pasukan lain mengurung Polobangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.

Tahap ketiga Sunting
Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerja sama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjuml
Dampak Pembantaian Westerling bagi Indonesia ialah rakyat Sulawesi Selatan banyak yang kehilangan keluarga. Ekonomi rakyat juga dirugikan karena pembantaian tersebut. Pembantaian ini mengakibatkan kekurangan tenaga kerja di Sulawesi Selatan pada masa tersebut. Dampak lainnya ialah banyak rakyat Sulawesi Selatan yang dendam dengan pasukan Belanda. Tahap pertama Sunting
Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu Borong dan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi di Batua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.

Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.

Fase kedua dimulai, yaitu mencari "kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh". Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama "pemberontak" yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala adat dan kepala desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama "Standrecht" – pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.

Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan pada masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir "pemberontak, teroris dan perampok". Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.

Demikianlah "sweeping ala Westerling". Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.

Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran Kalukuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 Desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.

Tahap kedua Sunting
Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polobangkeng yang terletak di selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan Ko'mara. Pasukan lain mengurung Polobangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.

Tahap ketiga Sunting
Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerja sama antara Pasukan Khusus DST deng
Nilai-nilai yang diambil dari Pertempuran di Sulawesi Selatan ini adalah kita harus tetap setia pada Negara sendiri walaupun mendapat siksaan atau hukuman mati ataupun dijauhkan oleh orang lain. Dengan semboyan oleh Robert W.M. diajarkan bahwa seluruh warga Negara Indonesia harus setia terhadap Negara sendiri dalam keyakinan. Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.

Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: "Pasukan si Turki kembali." Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.

Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.

Kebangkrutan Voc

              VOC menuju kebangkrutan
Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18, VOC mengalami puncak kejayaan.
Penguasa dan kerajaan-kerajaan lokal berhasil diungguli. Kerajaan-kerajaan
itu sudah menjadi bawahan dan pelayan kepentingan VOC. Jalur perdagangan
yang dikendalikan VOC menyebar luas membentang dari Amsterdam, Tanjung
Harapan, India sampai Irian/Papua. Keuntungan perdagangan rempah￾rempah juga melimpah. Namun di balik itu ada persoalan-persoalan yang
bermunculan. Semakin banyak daerah yang dikuasai ternyata juga membuat
pengelolaan semakin kompleks. Semakin luas daerahnya, pengawasan juga
semakin sulit. Kota Batavia semakin ramai dan semakin padat. Orang-orang
timur asing seperti Cina dan Jepang diizinkan tinggal di Batavia. Sebagai
pusat pemerintahan VOC, Batavia juga semakin dibanjiri penduduk, sehingga
tidak jarang menimbulkan masalah-masalah sosial.
Pada tahun 1749 terjadi perubahan yang mendasar dalam lembaga
kepengurusan VOC. Pada tanggal 27 Maret 1749, Parlemen Belanda
mengeluarkan UU yang menetapkan bahwa Raja Willem IV sebagai penguasa
tertinggi VOC. Dengan demikian, anggota pengurus “Dewan Tujuh Belas”
yang semula dipilih oleh parlemen dan provinsi pemegang saham (kecuali
Provinsi Holland), kemudian sepenuhnya menjadi tanggung jawab Raja. Raja
juga menjadi panglima tertinggi tentara VOC. Dengan demikian VOC berada
di bawah kekuasaan raja. Pengurus VOC mulai akrab dengan pemerintah
Belanda. Kepentingan pemegang saham menjadi terabaikan. Pengurus
tidak lagi berpikir memajukan usaha perdagangannya, tetapi berpikir untuk
memperkaya diri. VOC sebagai kongsi dagang swasta keuntunganya semakin
merosot. Bahkan tercatat pada tahun 1673 VOC tidak mampu membayar
dividen. Kas VOC juga merosot tajam karena serangkaian perang yang telah
dilakukan VOC dan beban hutang pun tidak terelakkan.
Sementara itu para pejabat VOC juga semakin feodal. Pada tanggal 24 Juni
1719 Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon mengeluarkan ordonansi
untuk mengatur secara rinci cara penghormatan terhadap gubernur jenderal
32 Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Semester 1
pemerintah. Pada waktu itu sebagai Gubernur Jendral VOC yang terakhir
Van Overstraten masih harus bertanggung jawab tentang keadaan di Hindia
Belanda. Ia bertugas mempertahankan Jawa dari serangan Inggris.
KESIMPULAN
1. Yang dimaksud dunia Timur penghasil rempah-rempah itu ternyata
Kepulauan Nusantara.
2. Setelah menemukan daerah penghasil rempah-rempah,
perdaganganpun meningkat. Untuk menghindari persaingan
antarpedagang satu bangsa dibentuklah kongsi dagang. Misalnya
Inggris membentuk IEC berpusat di India, Belanda mendirikan VOC di
Indonesia.
3. VOC mula-mula dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII)
yang berkedudukan di Amsterdam, kemudian agar lebih efektif dan
produktif diangkat jabatan gubernur jenderal yang berkedudukan di
Hindia.
4. VOC sebagai kongsi dagang yang ingin mencari untung sebanyak￾banyaknya, kemudian semakin bernafsu untuk mengusai daerah￾daerah di Nusantara dengan memerangi beberapa kerajaan yang
ada. VOC akhirnya menjadi kongsi penjajah. Mulailah bercokol
kolonialisme dan imperialisme di Indonesia.
5. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan VOC semakin luas.
Ternyata hal ini menimbulkan masalah dalam hal manajemen
pemerintahan. Pengawasan tidak dapat berjalan secara baik. Berbagai
penyelewengan mulai terjadi. Pegawai atau pengurus VOC mulai hidup
mewah dan berfoya-foya. Penyakit korupsi semakin merebak. Utang
VOC meningkat, dan kas habis untuk membiayai perang. VOC berada
pada posisi bangkrut.
6. Tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan.

Perjalanan Voc Dari Kejayaan Sampai Keruntuhan nya

             Sejarah Indonesia 25
b. VOC semakin merajalela
Pada tahun 1614 Pieter Both digantikan oleh Gubernur Jenderal Gerard Reynst
(1614-1615). Baru berjalan satu tahun ia digantikan gubernur jenderal yang
baru yakni Laurens Reael (1615-1619). Pada masa jabatan Laurens Reael ini
berhasil dibangun Gedung Mauritius yang berlokasi di tepi Sungai Ciliwung.
Orang-orang Belanda yang tergabung dalam VOC itu memang cerdik. Pada
awalnya mereka bersikap baik dengan rakyat. Hubungan dagang dengan
kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara juga berjalan lancar. Bahkan
seperti telah djelaskan di atas, orang-orang Belanda di bawah pimpinan
Gubernur Jenderal Pieter Both diizinkan oleh Pangeran Wijayakrama untuk
membangun tempat tinggal dan loji di Jayakarta. Sikap baik rakyat dan para
penguasa setempat ini dimanfaatkan oleh VOC untuk semakin memperkuat
kedudukannya di Nusantara. Lama kelamaan orang-orang Belanda mulai
menampakkan sikap congkak, dan sombong. Setelah merasakan nikmatnya
tinggal di Nusantara dan menikmati keuntungannya yang melimpah dalam
berdagang, Belanda semakin bernafsu ingin menguasai dan kadang-kadang
melakukan paksaan dan kekerasan. Hal ini telah menimbulkan kebencian
rakyat dan para penguasa lokal. Oleh karena itu, pada tahun 1618 Sultan
Banten yang dibantu tentara Inggris di bawah Laksamana Thomas Dale berhasil
mengusir VOC dari Jayakarta. Orang-orang VOC kemudian menyingkir ke
Maluku. Setelah VOC hengkang dari Jayakarta pasukan Banten pada awal
tahun 1619 juga mengusir Inggris dari Jayakarta. Dengan demikian Jayakarta
sepenuhnya dapat dikendalikan oleh Kesultanan Banten.
Tahun 1619 Gubernur Jenderal VOC Laurens Reael digantikan oleh Gubernur
Jenderal Jan Pieterzoon Coen (J.P. Coen). J.P. Coen dikenal gubernur jenderal
yang berani dan kejam serta ambisius. Oleh karena itu, merasa bangsanya
dipermalukan pasukan Banten dan Inggris di Jayakarta, maka J.P. Coen
mempersiapkan pasukan untuk menyerang Jayakarta. Armada angkatan
laut dengan 18 kapal perangnya mengepung Jayakarta. Ternyata dalam
waktu singkat Jayakarta dapat diduduki VOC. Kota Jayakarta kemudian
dibumihanguskan oleh J.P. Coen pada tanggal 30 Mei 1619. Di atas puing￾puing kota Jayakarta itulah dibangun kota baru bergaya kota dan bangunan
di Belanda. Kota baru itu dinamakan Batavia sebagai pengganti nama
Jayakarta.

26 Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Semester 1
» J.P. Coen adalah Gubernur Jenderal VOC yang keempat dan
keenam. Siapa gubernur jenderal yang kelima. Mengapa J.P.
Coen menamakan kota itu Batavia? Adakah kaitan nama
Batavia dengan Betawi? Kalau ada kaitannya bagaimana
penjelasannya. Kalau tidak ada kaitannya, dari mana
sebenarnya asal usul kata Betawi itu?
J.P. Coen adalah gubernur jenderal yang sangat bernafsu untuk memaksakan
monopoli. Ia juga dikenal sebagai peletak dasar penjajahan VOC di Indonesia.
Disertai dengan sikap congkak dan tindakan yang kejam, J.P.Coen berusaha
meningkatkan eksploitasi kekayaan bumi Nusantara. Cara-cara VOC untuk
meningkatkan eksploitasi kekayaan alam dilakukan antara lain dengan:
1. Merebut pasaran produksi pertanian, biasanya dengan memaksakan
monopoli, seperti monopoli rempah-rempah di Maluku.
2. Tidak ikut aktif secara langsung dalam kegiatan produksi hasil pertanian.
Cara memproduksi hasil pertanian dibiarkan berada di tangan kaum
Pribumi, tetapi yang penting VOC dapat memperoleh hasil-hasil
pertanian itu dengan mudah, sekalipun harus dengan paksaan.
3. VOC sementara cukup menduduki tempat-tempat yang strategis.
4. VOC melakukan campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di
Nusantara, terutama menyangkut usaha pengumpulan hasil bumi dan
pelaksanaan monopoli. Dalam kaitan ini VOC memiliki daya tawar
yang kuat, sehingga dapat menentukan harga.
5. Lembaga-lembaga pemerintahan tradisional/kerajaan masih tetap
dipertahankan dengan harapan bisa dipengaruhi/dapat diperalat,
kalau tidak mau baru diperangi.
Setelah berhasil membangun Batavia dan meletakkan dasar-dasar penjajahan
di Nusantara, pada tahun 1623 J.P. Coen kembali ke negari Belanda. Ia
menyerahkan kekuasaannya kepada Pieter de Carpentier. Tetapi oleh
pimpinan VOC di Belanda, J.P. Coen diminta kembali ke Batavia. Akhirnya
pada tahun 1627 J.P. Coen tiba di Batavia dan diangkat kembali sebagai
Gubernur Jenderal untuk jabatan yang kedua kalinya. Pada masa jabatan
yang kedua inilah terjadi serangan tentara Mataram di bawah Sultan Agung
ke Batavia.28 Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Semester 1
yang sedang dalam keadaan sakit keras dipaksa untuk menandatangani
naskah penyerahan kekuasaan Kerajaan Mataram kepada VOC pada tahun
1749. Tidak hanya kerajaan-kerajaan di Jawa, kerajaan-kerajaan di luar Jawa
berusaha ditaklukkan. Untuk memperkokoh kedudukannya di Indonesia
bagian barat dan memperluas pengaruhnya di Sumatera, VOC berhasil
menguasai Malaka setelah mengalahkan saingannya, Portugis pada tahun
1641. Berikutnya VOC berusaha meluaskan pengaruhnya ke Aceh. Kerajaan
Makassar di bawah Sultan Hasanuddin yang tersohor di Indonesia bagian
timur juga berhasil dikalahkan setelah terjadi Perjanjian Bongaya tahun
1667. Dari Makasar VOC juga berhasil memaksakan kontrak dan monopoli
perdagangan dengan Raja Sulaiman dari Kalimantan Selatan. Sementara
jauh sebelum itu yakni tahun 1605 VOC sudah berhasil mengusir Portugis
dari Ambon. VOC menjadi berjaya setelah berhasil melakukan monopoli
perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Untuk mengendalikan
pelaksanaan monopoli di kawasan ini dilaksanakan Pelayaran Hongi.
» Apa yang dimaksud dengan Pelayaran Hongi? Bagaimana
pelaksanannya sehingga keuntungan tetap jatuh di tangan
VOC? Coba jelaskan!
Pengaruh dan kekuasaan VOC semakin meluas. Untuk memperkuat kebijakan
monopoli ini di setiap daerah yang dipandang strategis armada VOC
diperkuat. Benteng-benteng pertahanan dibangun. Sebagai contoh Benteng
Doorstede dibangun di Saparua, Benteng Nasau di Banda, di Ambon sudah
ada Benteng Victoria, Benteng Oranye di Ternate, dan Benteng Rotterdam di
Makasar.
Dalam rangka memperluas pengaruh dan kekuasaannya itu, ternyata
perhatian VOC juga sampai ke Irian/Papua yang dikenal sebagai wilayah
yang masih tertutup dengan hutan belantara yang begitu luas. Penduduknya
juga masih bersahaja dan primitif. Orang Belanda yang pertama kali sampai
ke Irian adalah Willem Janz. Bersama armandanya rombongan Willem Janz
menaiki Kapal Duyke dan berhasil memasuki tanah Irian pada tahun 1606.
Willem Janz ingin mencari kebun tanaman rempah-rempah. Tahun 1616-
1617 Le Maire dan William Schouten mengadakan survei di daerah pantai
timur laut Irian dan menemukan Kepulauan Admiralty bahkan sampai ke
New Ireland. Dengan penemuan ini maka nama William diabadikan sebagai
nama kepulauan, Kepulauan Schouten. Pada waktu orang-orang Belanda
sangat memerlukan bantuan budak, maka banyak diambil dari orang-orang
Irian. Pengaruh VOC di Irian semakin kuat. Bahkan pada tahun 1667, Pulau￾pulau yang termasuk wilayah Irian yang semula berada di bawah kekuasaan

VOC. Sekali lagi tindak keserakahan dan kekerasan yang dilakukan oleh VOC
itu menunjukkan mereka tidak mau bersyukur atas karunia yang diberikan
Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, wajar kalau timbul perlawanan dari
berbagai daerah misalnya dari A

Minggu, 10 Desember 2017

Awal Mula Voc

                      Menganalisis keserakahan kongsi dagang
a. Lahirnya VOC
Seperti telah dijelaskan di muka bahwa tujuan kedatangan orang-orang Eropa
ke dunia timur antara lain untuk mendapatkan keuntungan dan kekayaan.
Tujuan ini boleh dikatakan dapat dicapai setelah mereka menemukan
rempah-rempah di Kepulauan Nusantara. Berita tentang keuntungan
yang melimpah berkat perdagangan rempah-rempah itu menyebar luas.
Dengan demikian semakin banyak orang-orang Eropa yang tertarik pergi
ke Nusantara. Mereka saling berinteraksi dan bersaing dalam meraup
keuntungan berdagang. Para pedagang atau perusahaan dagang Portugis
bersaing dengan para pedagang Belanda, bersaing dengan para pedagang
Spanyol, bersaing dengan para pedagang Inggris, dan seterusnya. Bahkan
tidak hanya antarbangsa, antarkelompok atau kongsi dagang, dalam satu
bangsapun mereka saling bersaing. Oleh karena itu, untuk memperkuat
posisinya di dunia timur masing-masing kongsi dagang dari suatu negara
membentuk persekutuan dagang bersama. Sebagai contoh seperti pada
tahun 1600 Inggris membentuk sebuah kongsi dagang yang diberi nama East
India Company (EIC). Kongsi dagang EIC ini kantor pusatnya berkedudukan di
Kalkuta, India. Dari Kalkuta ini kekuatan dan setiap kebijakan Ingris di dunia
timur, dikendalikan. Pada tahun 1811 kedudukan Inggris begitu kuat dan
meluas bahkan pernah berhasil menempatkan kekuasaannya di Nusantara.
Persaingan yang cukup keras juga terjadi di antarperusahaan dagang
orang-orang Belanda. Masing-masing ingin memenangkan kelompoknya
agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Kenyataan ini mendapat
perhatian khusus dari pihak pemerintah dan parlemen Belanda, sebabSejarah Indonesia 23
persaingan antarkongsi Belanda juga akan merugikan Kerajaan Belanda
sendiri. Terkait dengan itu, maka pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten
Generaal) pada 1598 mengusulkan agar antarkongsi dagang Belanda bekerja
sama membentuk sebuah perusahaan dagang yang lebih besar. Usulan
ini baru terealisasi empat tahun berikutnya, yakni pada 20 Maret 1602
secara resmi dibentuklah persekutuan kongsi dagang Belanda di Nusantara
sebagai hasil fusi antarkongsi yang telah ada. Kongsi dagang Belanda ini
diberi nama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atau dapat disebut
dengan “Perserikatan Maskapai Perdagangan Hindia Timur/Kongsi Dagang
India Timur”. VOC secara resmi didirikan di Amsterdam. Adapun tujuan
dibentuknya VOC ini antara lain untuk: (1) menghindari persaingan yang
tidak sehat antara sesama kelompok/kongsi pedagang Belanda yang telah
ada, (2) memperkuat kedudukan Belanda dalam menghadapi persaingan
dengan para pedagang negara lain.
VOC dipimpin oleh sebuah dewan yang beranggotakan 17 orang, sehingga
disebut “Dewan Tujuh Belas” (de Heeren XVII). Mereka terdiri dari delapan
perwakilan kota pelabuhan dagang di Belanda. Markas Besar Dewan ini
berkedudukan di Amsterdam. Dalam menjalankan tugas, VOC ini memiliki
beberapa kewenangan dan hak-hak antara lain:
1. melakukan monopoli perdagangan di wilayah antara Tanjung
Harapan sampai dengan Selat Magelhaens, termasuk Kepulauan
Nusantara,
2. membentuk angkatan perang sendiri,
3. melakukan peperangan,
4. mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat,
5. mencetak dan mengeluarkan mata uang sendiri,
6. mengangkat pegawai sendiri, dan
7. memerintah di negeri jajahan.
Sebagai sebuah kongsi dagang, dengan kewenangan dan hak-hak di atas,
menunjukkan bahwa VOC memiliki hak-hak istimewa dan kewenangan yang
sangat luas. VOC sebagai kongsi dagang bagaikan negara dalam negara.
Dengan memiliki hak untuk membentuk angkatan perang sendiri dan boleh
melakukan peperangan, maka VOC cenderung ekspansif. VOC terus berusaha
memperluas daerah-daerah di Nusantara sebagai wilayah kekuasaan dan
monopolinya. VOC juga memandang bangsa-bangsa Eropa yang lain sebagai
musuhnya. Mengawali ekspansinya tahun 1605 VOC telah berhasil mengusir
Portugis dari Ambon. Benteng pertahanan Portugis di Ambon dapat diduduki
tentara VOC. Benteng itu kemudian oleh VOC diberi nama Benteng Victoria. 24 Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Semester 1
Pada awal pertumbuhannya sampai tahun 1610,
“Dewan Tujuh Belas” secara langsung harus
menjalankan tugas-tugas dan menyelesaikan
berbagai urusan VOC, termasuk urusan
ekspansi untuk perluasan wilayah monopoli.
Dapat Kamu bayangkan “Dewan Tujuh Belas”
yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda
mengurus wilayah yang ada di Kepulauan
Nusantara. Sudah barang tentu “Dewan Tujuh
Belas” tidak dapat menjalankan tugas sehari￾hari secara cepat dan efektif. Sementara itu
persaingan dan permusuhan dengan bangsa￾bangsa lain juga semakin keras. Berangkat dari
permasalahan ini maka pada 1610 secara kelembagaan diciptakan jabatan
baru dalam organisasi VOC, yakni jabatan gubernur jenderal. Gubernur
jenderal merupakan jabatan tertinggi yang bertugas mengendalikan
kekuasaan di negeri jajahan VOC. Di samping itu juga dibentuk “Dewan
Hindia” (Raad van Indie). Tugas “Dewan Hindia” ini adalah memberi nasihat
dan mengawasi kepemimpinan gubernur jenderal. Gubernur jenderal VOC
yang pertama adalah Pieter Both (1610-1614). Sebagai gubernur jenderal
yang pertama, Pieter Both sudah tentu harus mulai menata organisasi kongsi
dagang ini sebaik-baiknya agar harapan mendapatkan monopoli perdagangan
di Hindia Timur dapat diwujudkan. Pieter Both pertama kali mendirikan pos
perdagangan di Banten pada tahun 1610. Pada tahun itu juga Pieter Both
meninggalkan Banten dan berhasil memasuki Jayakarta. Penguasa Jayakarta
waktu itu, Pangeran Wijayakrama sangat terbuka dalam hal perdagangan.
Pedagang dari mana saja bebas berdagang, di samping dari Nusantara juga
dari luar seperti dari Portugis, Inggris, Gujarat/India, Persia, Arab, termasuk
juga Belanda. Dengan demikian Jayakarta dengan pelabuhannya Sunda
Kelapa menjadi kota dagang yang sangat ramai. Kemudian pada tahun 1611
Pieter Both berhasil mengadakan perjanjian dengan penguasa Jayakarta,
guna pembelian sebidang tanah seluas 50x50 vadem ( satu vadem sama
dengan 182 cm) yang berlokasi di sebelah timur Muara Ciliwung. Tanah
inilah yang menjadi cikal bakal hunian dan daerah kekuasaan VOC di tanah
Jawa dan menjadi cikal bakal Kota Batavia. Di lokasi ini kemudian didirikan
bangunan batu berlantai dua sebagai tempat tinggal, kantor dan sekaligus
gudang. Pieter Both juga berhasil mengadakan perjanjian dan menanamkan
pengaruhnya di Maluku dan berhasil mendirikan pos perdagangan di Ambon.

Jumat, 08 Desember 2017

Sejarah Belanda Ke Indonesia

Belanda
Mendengar keberhasilan orang-orang Spanyol dan juga Portugis dalam
menemukan daerah baru, apalagi daerah penghasil rempah-rempah, para
pelaut dan pedagang Belanda tidak mau ketinggalan. Tahun 1594 Barents
mencoba berlayar untuk mencari dunia Timur atau Tanah Hindia melalui
daerah kutub utara. Karena keyakinannya bahwa bumi bulat maka sekalipun
dari utara atau barat akan sampai pula di timur. Ternyata Barents tidak begitu Uraian tersebut menunjukkan bahwa rakyat Indonesia senantiasa mau
bersahabat dan berdagang dengan siapa saja atas dasar persamaan. Tetapi
kalau para pedagang asing itu ingin memaksakan kehendak dan melakukan
monopoli perdagangan di wilayah Nusantara tentu harus ditolak karena tidak
sesuai dengan martabat rakyat Indonesia yang ingin berdaulat dalam hidup
dan kehidupan termasuk dalam kegiatan perdagangan.

Selasa, 05 Desember 2017

Duluan Mana Telur Sama Ayam

Debat Telur atau Ayam Duluan Akhirnya Selesai: Ini Jawaban Ilmiahnya!

blog.oxforddictionaries.com
Seperti halnya semua orang di dunia ini yang masing-masing merasa paling tahu, kita pasti pernah dengan pedenya berpendapat soal duluan mana ayam atau telur. Tanpa kita sadari, perdebatan itu hanya membuang waktu karena selama ini belum ada yang bisa menyampaikan dasar ilmiahnya.

Pertamanya kita menganggap pertanyaan ini hanya sebatas diskusi lelucon untuk membuat kita "sok pintar" secara ilmiah, tapi semua berubah ketika Stephen Hawking, salah satu orang dengan IQ yang terbilang di jajaran tertinggi di dunia, mulai membawa masalah ayam dan telur ini lebih serius. Stephen Hawking mengatakan bahwa yang duluan ada adalah telur. Semua orang saat itu percaya padanya begitu saja karena ia dianggap pintar, tapi apakah kesimpulan Hawking tepat?
Jawaban Stephen Hawking soal telur duluan itu SALAH! Yang benar adalah ayam duluan.

Pada musim panas di tahun 2010, para peneliti dari Inggris meretakkan telur ayam sampai akhirnya mereka menemukan bahwa protein yang dibutuhkan untuk membentuk cangkang telur itu secara eksklusif HANYA ditemukan di ovarium dari ayam. Sehingga mudah disimpulkan bahwa ayam itu ada duluan, karena cangkang telur gak bisa dibuat tanpa protein tersebut.

Lalu darimana ayam berasal? Apapun nama spesiesnya masa dulu, ayam telah berevolusi menjadi wujudnya yang seperti sekarang.
Telur memerlukan protein khusus untuk terbentuk dan penemuan ini menggiring pada penemuan yang lebih bermanfaat untuk hidup manusia.

Protein ovocledidin-17 mengontrol proses kristalisasi cangkang telur dan tanpanya, cangkang gak akan bisa terbentuk. Para peneliti hanya berusaha untuk mendinginkan perdebatan antara Hawking dengan kebanyakan peneliti lainnya. Justru dengan pertanyaan sederhana ini mampu membuat para peneliti menemukan cara menakjubkan yang bisa diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Seperti halnya lebih menguatkan tulang sintetis ataupun menghentikan dampak global warming. Hah, dari cara kerja ilmiah cangkang telur bisa menghentikan dampak global warming? Kok bisa?
Sistem kerja kristalisasi cangkang telur ayam lah yang bisa diterapkan untuk mengatasi polusi dan dampak global warming lainnya.

Salah satu cara terbaru yang dilakukan oleh para peneliti untuk melawan global warming adalah dengan cara menangkap semua karbondioksida berlebih yang dibuang oleh kendaraan bermotor ataupun berbagai produk kosmetik spray. Setelah ditangkap kemudian dikumpulkan sampai bisa dicoba untuk dibentuk menjadi TV layar datar.

Mengingat bahwa protein yang membentuk cangkang telur dapat membantu kita mengkristalisasi karbondioksida menjadi batu gamping, supaya bisa ditaruh sebagai penghias lingkungan. Toh bebatuan yang diletakkan begitu saja sebagai penghias gak akan membahayakan lingkungan, bahkan bisa digunakan untuk membangun suatu infrastruktur.

Jadi dari pertanyaan sederhananya pun: duluan mana telur atau ayam, bahkan bisa membawa dunia ke arah yang lebih baik. Pertanyaan-pertanyaan sederhana kadang menyimpan jawaban rahasia alam yang luar biasa. Jadi jangan pernah meremehkan pertanyaan hidup yang terkesan sepele. Setiap pertanyaan pasti ada jawabannya, tergantung kita saja yang berusaha untuk menjawabnya dengan kesungguhan atau gak.
BACA SUMBER LAPORKAN
0

Kepergok di Pusat Perbelanjaan, Ammar Zoni Ternyata Lakukan Rehabilitasi Jalan


Ammar Zoni dan Ranty (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sebuah akun gosip di Instagram memposting kebersamaan antara pesinetron Ammar Zoni dan kekasihnya, Ranty Maria disebuah pusat perbelanjaan. Sepintas, dalam foto tersebut tentu tidak ada yang membuat heboh, lantaran keduanya memang merupakan sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan asmara sejak lama.
Namun jika dilihat lagi, Ammar Zoni diketahui baru saja menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 23 November lalu. Hakim bahkan memvonis pria 24 tahun tersebut dengan 1 tahun penjara dan rehabilitasi di Panti Rehab Natura, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Berbagai spekulasi tentu keluar dari mulut netizen mengapa Ammar Zoni bisa leluasa berjalan di pusat perbelanjaan, meski dirinya telah divonis 1 tahun rehabilitasi. Okezone mencoba untuk menghubungi pengacara Ammar Zoni, Jhon Mathias, melalui sambungan telepon, Rabu (6/12/2017), untuk memberikan keterangannya mengenai hal tersebut.
"Ya kan sudah inkrah itu, nah dengan adanya inkrah itukan, berartikan semua ya ibaratnya proses regitrasi kan dijalankan sesuai dengan apanya Natura kan. Jadi berdasarkan mekanisme disanalah. Kalau Natura memberikan berobat jalan kan bisa saja terjadi," ungkap Jhon Matias.
"Ya 1 tahun (divonis) menjalani rehabilitasi. Rehabilitasi itu kan berobat, berobat itu enggak harus terus di Natura, bisa saja untuk penyesuaian diri, biaya juga gede. Kalau diberikan berobat jalan ya bisa, kan dia bukan tahanan penjara," tambahnya.
Lebih jelasnya, pengacara Ammar Zoni menyatakan bahwa kliennya bisa melakukan pengobatan berjalan lantaran ia sudah 5 bulan menjalani yang sebelumnya dilakukan di Lido, Jawa Barat. Bahkan pihak panti rehabilitasi Natura, bebas menentukan apakah Ammar Zoni akan melakukan rehabilitasi di panti, ataukah tidak.
"Bolehlah (berobat jalan), karena dia kan sudah menjalani itu (rehabilotasi) sudah lebih dari separuh, masa pengobatan ini diabsudah mulai sehat. Jadi enggak wajib kalau dia di apa, itu tergantung mekanisme dari Natura," paparnya.
"Karena bukan apa, karena sifatnya Hakim menyerahkan itu ke Natura dan Jaksa sudah eksekusi sudah inkrah, karena Jaksa tidak mengajukan banding. Nah pelaksanaan eksekusi sudah di jalankan, berarti full sepenuhnya kewenangan Natura," tegasnya.
JAKARTA - Sebuah akun gosip di Instagram memposting kebersamaan antara pesinetron Ammar Zoni dan kekasihnya, Ranty Maria disebuah pusat perbelanjaan. Sepintas, dalam foto tersebut tentu tidak ada yang membuat heboh, lantaran keduanya memang merupakan sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan asmara sejak lama.
Namun jika dilihat lagi, Ammar Zoni diketahui baru saja menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 23 November lalu. Hakim bahkan memvonis pria 24 tahun tersebut dengan 1 tahun penjara dan rehabilitasi di Panti Rehab Natura, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Berbagai spekulasi tentu keluar dari mulut netizen mengapa Ammar Zoni bisa leluasa berjalan di pusat perbelanjaan, meski dirinya telah divonis 1 tahun rehabilitasi. Okezone pun mencoba untuk menghubungi pengacara Ammar Zoni, Jhon Mathias, melalui sambungan telepon, Rabu (6/12/2017), untuk memberikan keterangannya mengenai hal tersebut.
"Ya kan sudah inkrah itu, nah dengan adanya inkrah itukan, berartikan semua ya ibaratnya proses regitrasi kan dijalankan sesuai dengan apanya Natura kan. Jadi berdasarkan mekanisme disanalah. Kalau Natura memberikan berobat jalan kan bisa saja terjadi," ungkap Jhon Matias.
"Ya 1 tahun (divonis) menjalani rehabilitasi. Rehabilitasi itu kan berobat, berobat itu enggak harus terus di Natura, bisa saja untuk penyesuaian diri, biaya juga gede. Kalau diberikan berobat jalan ya bisa, kan dia bukan tahanan penjara," tambahnya.
Lebih jelasnya, pengacara Ammar Zoni menyatakan bahwa kliennya bisa melakukan pengobatan berjalan lantaran ia sudah 5 bulan menjalani rehabilitasi yang sebelumnya dilakukan di Lido, Jawa Barat. Bahkan pihak panti rehabilitasi Natura, bebas menentukan apakah Ammar Zoni akan melakukan rehabilitasi di panti, ataukah tidak.
"Bolehlah (berobat jalan), karena dia kan sudah menjalani itu (rehabilotasi) sudah lebih dari separuh, masa pengobatan ini diabsudah mulai sehat. Jadi enggak wajib kalau dia di apa, itu tergantung mekanisme dari Natura," paparnya.
"Karena bukan apa, karena sifatnya Hakim menyerahkan itu ke Natura dan Jaksa sudah eksekusi sudah inkrah, karena Jaksa tidak mengajukan banding. Nah pelaksanaan eksekusi sudah di jalankan, berarti full sepenuhnya kewenangan Natura," tegasnya.

Pengabdian Badan Pengawas Pemilu Surabaya 2020

Pengabdian Badan Pengawas Pemilu Surabaya 2020 Desember 26, 2020 Pengabdian untuk Negara di Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) (ahmad sodiq ana...