Selasa, 21 November 2017

Riwayat Rewang Mengumpulkan Sisa-Sisa PKI 1965



Berbulan-bulan Sri Kayati tak tahu lagi kabar suaminya. Sampai dia dengar berita dari kawan-kawannya, pada akhir 1967, jika suaminya berada di Surabaya. Perempuan yang pernah jadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) ini pun memutuskan meninggalkan Jakarta, menuju Surabaya, mencari suaminya. 

Namun, begitu tiba di Surabaya, nasib sial menimpanya. Belum juga menemukan sang suami, ia digelandang petugas keamanan. Suami Sri Kayati adalah Rewang, pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Seperti tersangka lain, ia ditangkap tanpa melalui prosedur hukum yang ada. Ia ditangkap begitu saja tanpa ada surat perintah penangkapan,” tulis Amurwani Dwi Lestariningsih dalam Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan (2011). 

Saat Sri Kayati ditangkap, para petugas itu bilang: Ia akan dibebaskan setelah suaminya dapat ditangkap. Belakangan, Sri Kayati menghuni Kamp Plantungan, tahanan khusus perempuan untuk mereka yang dianggap PKI. Di situ ia mengaku menyaksikan penganiayaan yang tiada tara kejamnya.

Perlawanan yang Gagal di Blitar Selatan

Setelah Gerakan 30 September (G30S) 1965 pimpinan Letnan Kolonel Untung digagalkan, banyak pimpinan PKI ditangkapi dan tercerai-berai. Begitu juga Rewang, yang berkeliaran di sekitar Blitar Selatan ketika Sri Kayati ditahan. 

Dalam pelariannya itu, menurut catatan Sukri Abdurahman dalam Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian II Konflik Lokal (2012), Rewang yakin “PKI tidak salah” pada peristiwa G30S. Dia termasuk anggota politibiro PKI yang tidak setuju dengan petualangan partai dengan sekelompok tentara yang tidak puas dengan atasan mereka.

Rewang dan kawannya, Iskandar Subekti, berada di Surabaya sejak Februari 1967. Sebelum ke Surabaya, bersama Sudisman, Oloan Hutapea, dan Sukatno; Rewang membangun PKI “gaya baru” dengan sebutan Tripanji PKI pada September 1966. Dalam PKI “gaya baru” itu, Rewang juga menjadi anggota Politbiro. Posisi lainnya adalah Ketua Departemen Agitasi Propaganda.


Bersama sisa-sisa anggota PKI dan simpatisannya, mereka membangun basis di Blitar selatan—yang kala itu terisolir. “Tak ada lagi pilihan bagi mereka selain melawan atau ditangkap hidup-hidup atau mati,” tulis Amurwani. 

Di situ Rewang ikut jadi pemimpinnya. Di Blitar selatan, terdapat sungai bawah tanah yang potensial menjadi lokasi pelarian dan persembunyian orang-orang komunis yang dikejar aparat tentara. Beberapa tahun pertama gerilya sisa-sisa komunis tersebut, mereka agak sulit dihantam, karena lokasi persembunyian yang disediakan alam itu.

Berkat bantuan dari “mantan Dandim Pandeglang, Letnan Kolonel Pratomo, Rewang dan kawan-kawan, mendapat latihan militer bagi para anggotanya. Gerakan mereka dengan cepat memperoleh simpati masyarakat sekitar. Sebab Blitar Selatan merupakan daerah terpencil dengan taraf hidup rakyat yang sangat minim,” tulis Dasman Djamaluddin dalam Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (2008). 

Sementara dalam Tahun Yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65: Esai-esai Sejarah Lisan (2004), Rewang mengatakan, "bahkan anak sekolah dasar pun membantu memberitahu seandainya ada polisi yang datang." Menurutnya, "massa di Blitar selatan memberikan perlindungan tanpa paksaan, karena aktivis PKI tidak membawa [senjata] apa-apa.”

“Selama di Blitar Selatan saya tanpa sabun dan handuk. Pendeknya kita benar-benar meninggalkan pola hidup kota,” terang Rewang dalam memoar yang diterbitkan Ultimus, Saya Seorang Revolusioner (2017), yang disusun Joko Waskito. Bagi Rewang, “perlawanan itu dilakukan dalam situasi amat sulit, ketika sebagian rakyat masih berada dalam ketakutan akibat pembunuhan massal yang sangat kejam dan biadab.”
infografik rewang


Gerilyawan-gerilyawan komunis yang hendak meniru gerilya Vietkong melawan Perancis dan Amerika itu tak pernah sukses. Meski wilayahnya sulit terjangkau, pelan-pelan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) berhasil mematahkan perlawanan gerilyawan-gerilyawan komunis. Di masa-masa itu, tak hanya sisa PKI di Blitar selatan yang berontak. Setidaknya, ada juga PGRS/Paraku di Kalimantan.


Rewang dan kawan-kawannya akhirnya kena gulung operasi militer Trisula oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Brawijaya (Jawa Timur). Menurut pihak militer dalam Operasi Trisula Kodam VIII Brawidjaja (1969), “Rewang alias Parto alias Karto alias Demo alias Siman, lahir tahun 1928 di Dawung Wetan Solo.” 

Rewang adalah anak dari Marjosuwiknjo. Ketika ia ditangkap, kedua orang tuanya sudah meninggal. Sang ayah wafat pada 1948. Menurut catatan militer itu pula, Rewang lulus sekolah dasar dan tidak lulus sekolah menengah MULO.

Di masa mudanya, ketika berusia 22 tahun, menurut Bintang Merah volume 6 tahun 1950, Rewang adalah anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) cabang Sukoharjo, Jawa Tengah. BTI merupakan organisasi petani yang belakangan merasa satu tujuan dengan PKI. 

Lalu, sebelum Agustus 1965, menurut MR Siregar dalam Tragedi Manusia dan Kemanusiaan (2007), “Rewang adalah Sekretaris Pertama CDB (Comite Daerah Besar) PKI Jawa Tengah.”

“Awal Juli 1966 saya pindah ke Jakarta. Kepindahan saya ke Jakarta karena mendapat tugas baru sebagai Kepala Departemen Kebudayaan dan Sekretariat CC [PKI],” aku Rewang yang akhirnya jadi anggota politbiro partai.

Perlawanan di Blitar Selatan itu, menurut Rewang, hanya bertahan satu setengah tahun dari 1966 hingga 1968. Rewang tertangkap pada 21 Juli 1968 dan ketika diadili ia sudah siap dieksekusi mati. Namun, majelis hakim akhirnya memvonis penjara seumur hidup. Dalam memoarnya, Rewang bercerita soal salah satu anggota majelis hakim yang menjatuhkan vonis padanya belakangan masuk penjara Cipinang gara-gara korupsi. 

Dua Episode Perebutan Takhta Pakualaman


Kami keluarga besar KGPAA Paku Alam IX al Haj-Anglingkusumo dengan ini menyatakan rasa belasungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya salah seorang keluarga kami, yakni Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Ambarkusumo. Walaupun beliau telah wafat, kami tetap belum mengakui beliau sebagai Paku Alam IX yang sah.”

Pernyataan turut berduka sekaligus penegasan tanpa pengakuan tersebut disampaikan oleh KPH Wiroyudo, menantu KPH Anglingkusumo,  dalam jumpa pers sesaat setelah mangkatnya pemimpin Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta, Paku Alam IX, pada 21 November 2015.

Paku Alam IX yang wafat hari itu adalah KPH Ambarkusumo. Lantas, mengapa KPH Wiroyudo juga menyebut ayah mertuanya, KPH Anglingkusumo, sebagai Paku Alam IX? Apakah ada dua orang pemimpin tertinggi di Pakualaman? 


Benar. Terdapat dualisme kepemimpinan di Kadipaten Pakualaman saat itu meskipun yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia adalah KPH Ambarkusumo selaku Paku Alam IX sekaligus Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sarat Sengketa Sejak Mula

Berdirinya Negeri, Praja, atau Kadipaten Pakualaman tidak terlepas dari polemik yang melanda Kasultanan Yogyakarta semasa era Sultan Hamengkubuwono (HB) II. Ketika itu tanah Jawa secara bergantian dikuasai Belanda dan Inggris pada awal dekade kedua abad ke-19.

Melalui perjanjian pada 1813 dengan pihak Inggris, Sultan HB II diwajibkan menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Pangeran Notokusumo. Pangeran ini adalah adik tiri Sultan HB II yang membantu Inggris memadamkan pergolakan di Yogyakarta kala itu (Djoko Marihandono & Harto Juwono, Sultan Hamengku Buwono 2, 2008:159).


Sebagai sesama putra Sultan HB I, Notokusumo merasa berhak menikmati kekuasaan. Adapun wilayah yang diserahkan Sultan HB II kepada Notokusumo meliputi area khusus di dalam Kota Yogyakarta dan kawasan yang disebut Adikarto (sekarang terletak di Kabupaten Kulon Progo bagian selatan) seluas 4.000 cacah.

Selanjutnya, berdasarkan kontrak politik yang disepakati pada 17 Maret 1813 antara wakil Inggris dan Pangeran Notokusumo, maka berdirilah suatu pemerintahan baru di Yogyakarta -– di luar kesultanan yang tetap dipimpin oleh sultan -- bernama Kadipaten Pakualaman. 

Tanggal 29 Juni 1813, Pangeran Notokusumo dinobatkan sebagai penguasa Pakualaman dengan gelar Paku Alam I (Soedarisman Poerwokoesoemo, Kadipaten Pakualaman, 1985:148). Oleh Inggris, Paku Alam I diakui sebagai pangeran merdeka, diberikan tanah, tunjangan, pasukan, hak memungut pajak, serta hak takhta turun-temurun.

Dengan demikian, sejak saat itu terdapat dua kerajaan di Yogyakarta dengan pemimpin dan segala perabotan kekuasaannya masing-masing, yakni Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakulaman.

Ternyata, Kadipaten Pakualaman yang didirikan di atas konflik masih menuai polemik dalam hal pengakuan kepemimpinan, termasuk selama era Paku Alam IX (1999-2015), bahkan setelah wafatnya.

Berebut Singgasana Pakualaman

Penobatan KPH Ambarkusumo sebagai Paku Alam IX selepas mangkatnya sang ayah, Paku Alam VIII, yang meninggal dunia pada 11 September 1998, menyisakan polemik di kalangan keluarga Kadipaten Pakualaman, yang nantinya melebar dan berkepanjangan.

Yang menjadi titik persoalan, mendiang Paku Alam VIII belum sempat menunjuk putra mahkota sebelum wafat, sementara almarhum punya dua istri dengan anak-anaknya yang sama-sama merasa berhak duduk di atas singgasana Pakualaman.

Dua pangeran yang muncul sebagai kandidat terkuat saat itu adalah KPH Probokusumo, anak tertua dari istri Paku Alam VIII pertama, KRAy. Ratnaningrum, serta KPH Ambarkusumo yang merupakan putra sulung dari istri kedua, KRAy. Purnamaningrum.


Silang pendapat kemudian timbul berkaitan dengan suksesi takhta Pakualaman. Sebagian berpendapat suksesor seharusnya diberikan kepada putra tertua yakni KPH Probokusumo, namun ada pula yang memihak KPH Ambarkusumo selaku putra yang dituakan.

Untuk menemukan solusi dari masalah suksesi ini, pada 25 November 1998 digelarlah musyawarah antara dua pihak yang saling mengklaim. Namun, proses rembug menemui jalan buntu. Kubu KPH Probokusumo memilih walk out lantaran merasa gelaran forum itu terkesan dipaksakan (CNN Indonesia, 25 November 2015).

Hingga beberapa bulan berjalan, kebuntuan tidak kunjung mampu dituntaskan. Sampai akhirnya, muncul dukungan kuat untuk KPH Ambarkusumo yang kemudian mengantarkannya ke tampuk tertinggi Pakualaman. Tanggal 26 Mei 1999, KPH Ambarkusumo dinobatkan sebagai Paku Alam IX. 

Menyusul kemudian, pada 9 Oktober 2003, pemerintah RI menetapkan KPH Ambarkusumo atau Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur DIY untuk mendampingi Raja Kasultanan Yogyakarta sekaligus gubernur, Sultan Hamengkubuwana X.



Konflik yang  Keluarga

Pihak KPH Probokusumo terkesan diam setelah menuai “kekalahan” dari kubu saudara tirinya, KPH Ambarkusumo, yang akhirnya disahkan sebagai Paku Alam IX sekaligus Wakil Gubernur DIY. Situasi sempat “damai” selama beberapa tahun setelah itu.

Baru pada 2012, muncul keguncangan lagi dari dalam istana. Kali ini dimotori oleh KPH Anglingkusumo yang tidak lain adalah adik kandung KPH Probokusumo atau anak ketiga almarhum Paku Alam VIII dari istri kedua, KRAy. Purnamaningrum.

KPH Anglingkusumo ternyata lebih terbuka ketimbang kakandanya dalam urusan konfrlik ini. Pada 15 April 2012, ia dikukuhkan sebagai Paku Alam IX. Penobatan itu dilakukan di Pendopo Pantai Glagah, Kulon Progo, dan dihadiri lebih dari 400 warga serta 15 orang perwakilan Masyarakat Hukum Adat Sabang-Merauke 


Kendati begitu, kedudukan KPH Ambarkusumo sebagai Paku Alam IX yang diakui oleh pemerintah RI tidak tergoyahkan. Faktanya, KPH Ambarkusumo tetap bertakhta di Kadipaten Pakualaman sekaligus menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY hingga wafatnya, tanggal 21 November 2015.

Sebelum wafat, KPH Ambarkusumo telah menunjuk anaknya, KBPH Prabu Suryodilogo, selaku putra mahkota. KBPH Prabu Suryodilogo pun ditabalkan sebagai Paku Alam X pada 7 Januari 2016. Dan, seperti almarhum ayahnya, Paku Alam X juga ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai Wakil Gubernur DIY, yakni pada 25 Mei 2016.

Lantas, bagaimana dengan pihak KPH Anglingkusumo? 

Tentu saja kubu ini menolak penobatan KBPH Prabu Suryodilogo sebagai Paku Alam X karena tetap menganggap Paku Alam IX yang sah adalah KPH Anglingkusumo (Antara, 6 Januari 2016). Kubu KPH Anglingkusumo bahkan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Yogyakarta dan hingga pertengahan tahun 2016, proses hukum masih berjalan.

Meskipun perebutan takhta kerajaan di zaman sekarang sering dianggap sudah tidak relevan, tapi tidak bagi keluarga Pakualaman. Selain legitimasi trah atas kepemimpinan internal istana, hak Paku Alam sebagai Wakil Gubernur DIY juga menggiurkan. Belum lagi rencana pembangunan bandara baru di pesisir selatan Kulon Progo yang sebagian tanahnya merupakan milik Pakulaman. 

Wanita yang Dipuja Banyak Tokoh Besar Indonesia


Pada Rabu, 24 Maret 1954, beberapa lelaki terpelajar dan berpengaruh di negeri ini harus gigit jari. Harapan mereka untuk meminang seorang perempuan ningrat, terpelajar, berparas ayu, resmi pupus pada hari itu. 

Mereka harus menerima kenyataan jika Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani alias Gusti Nurul resmi menikahi lelaki pilihannya. Lelaki yang beruntung meminang gadis Mangkunegaran adalah Raden Mas Sujarso Surjosurarso. 

Meski bukan pejabat tinggi negara macam Sukarno atau Sjahrir, juga bukan bangsawan seberpengaruh Hamengkubuwana IX, namun Sujarso Surjosurarso juga tak bisa dipandang enteng. Sebagai tentara, dia bukan perwira militer sembarangan. 

Sebagai lulusan Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, seperti ditulis Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira TNI-AD(1989), Jarso pernah beberapa tahun berdinas di tentara kerajaan Belanda. Dia pernah ditempatkan di Proef Batalion Vechtwagens di Bandung dan selanjutnya pindah lagi ke Batalion Infanteri di Bogor

Setelah proklamasi kemerdekaan, dia bergabung TNI. Dia adalah orang pertama yang jadi kepala Inspektorat Kavaleri Angkatan Darat, dengan pangkat letnan kolonel. Pada saat menyandang pangkat itu pula dia menyunting Gusti Nurul dan bikin hampir semua laki-laki gigit jari. 

Gusti Nurul adalah orang Indonesia yang wajahnya pernah masuk majalah legendaris Life. Majalah terbitan Amerika Serikat ini edisi 25 Januari 1937 memajang foto Gusti Nurul menari di hari pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernard. Pada hari pernikahan itu, 6 Januari 1937, Gusti Nurul yang baru berusia 15 tahun menari di hadapan Ratu Belanda beserta pejabat-pejabat dan tamu kenegaraan. 

Gusti Nurul datang bersama ayahnya yang juga menjadi tamu kenegaraan. Di zaman belum ada mini compo itu, menurut Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land(2006), “penari itu diiringi gamelan yang disiarkan tanpa kabel dari Istana Sultan Yogyakarta.” 

Gusti Nurul, menurut Martha Tilaar dalam Kecantikan Perempuan Timur (1999), adalah pakar dalam pengetahuan kosmetik tradisional dan jamu. Bahkan Martha Tilaar, pakar dan produsen kosmetik tradisional, juga belajar padanya. Soal jamu dan kosmetik itu tampaknya dipelajari Gusti Nurul sejak muda. Tak heran jika ia terkenal. Tak hanya tariannya, tapi juga parasnya yang elok. 

Sebelum menikah dengan Jarso, ada gelagat seorang raja di kota sebelah hendak menyunting Gusti Nurul. Ketika ayahnya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII (1885-1944), masih hidup, pernah ada orang yang hendak meminangnya. 

Kepada Gusti Nurul, ayahnya pernah bercerita. “Telah datang utusan dari Yogyakarta, dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menanyakan tentang aku. Tujuannya ingin meminangku untuk menjadikan istri,” aku Gusti Nurul dalam Goesti Noeroel: Straven naar Geluk Mengejar Kebahagiaan (2014). 

Gusti Nurul tentu tahu jika Sultan HB IX sudah punya istri. Gusti Nurul keberatan. Pantang baginya, seorang perempuan berpendidikan tinggi di zaman kolonial, dimadu seperti dialami Kartini. 

Beberapa pangeran dari Keraton Surakarta juga menaruh hati padanya. Salah satunya Kolonel Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo—Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama. Mereka yang jatuh hati pada Gusti Nurul memang banyak yang sudah beristri. 

“Aku tak bisa menerima cinta mereka. Penyebabnya hanya satu, aku tak mau dimadu,” aku Gusti Nurul dalam memoarnya. 

Di luar bangsawan-bangsawan Jawa, daftar penggemar Gusti Nurul tampaknya juga diisi Presiden Sukarno. 

Infografik Gusti Nurul


“Menurut kabar beberapa orang, Bung Karno pun menaruh simpati padaku. Namun aku sendiri tak pernah mendengar pernyataan ungkapan isi hari Bung Karno. Tapi, saya mendengar dari Bu Hartini, istrinya. Menurutku, Bung Karno hanya sebatas mengagumi saja,” lanjut Gusti Nurul. 

Setelah tentara Belanda angkat kaki, Gusti Nurul pernah diundang ke Istana Cipanas. Ia datang bersama ibunya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Di istana, pelukis Basuki Abdullah diminta Sukarno melukis Gusti Nurul. Setelah Gusti Nurul menikah dengan Surjosurarso, Bung Karno sering bilang: “Wah, aku kalah cepat dengan suamimu.” 

Di antara para penggemar Gusti Nurul, Sutan Sjahrir adalah yang paling unik. Sjahrir bukan orang Jawa, padahal saingan-saingan Sjahrir hampir semuanya pembesar dan bangsawan Jawa. Di masa revolusi, Sjahrir adalah Perdana Menteri Republik Indonesia Pertama.


“Setiap rapat kabinet digelar di Yogyakarta, ia selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaidah Oesman, ke Pura Mangkunegaran untuk khusus mengantar hadiah yang dibelinya di Jakarta. Bersamanya juga terlampir sepucuk surat tulisan tangan Sutan Sjahrir,” aku Gusti Nurul. Hadiah dari Sjahrir itu biasanya sutra, tas, atau jam tangan. Gusti Nurul rajin membalas surat dari Sjahrir. 

Meski tampak jatuh hati, Sutan Sjahrir yang dikenal sebagai pentolan Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu tak pernah menyambangi Gusti Nurul ke Pura Mangkunegaran. Sjahrir pernah mengundang Gusti Nurul berserta ibu dan kakaknya ke Linggarjati. Mereka menginap di rumah tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati

Setelah Gusti Nurul menikah pun Sjahrir tampaknya masih "penasaran". Sjahrir pernah datang ke rumah. Tapi Jarso tidak cemburu. Gusti Nurul mengaku, “Setiap kami foto bersama, Sjahrir selalu mengambil posisi ada di dekatku, sementara Mas Jarso justru mengambil posisi tidak di dekatku.” 

“Mas Jarso tahu tentang pria-pria yang menaksirku,” aku Gusti Nurul. 

Setelah menikah dengan perwira ber-NRP 13751 itu, yang pernah jadi kepala persenjataan kavaleri pertama itu, Gusti Nurul tak tinggal di Pura Mangkunegaran lagi. Dia ikut suaminya ke mana pun berdinas. Bahkan ketika Jarso jadi Atase Militer di Washington DC. 

Mengapa Perjanjian Linggarjati Dilakukan Dirumah Janda Tua?


Jasitem seorang janda dari Linggarjati (sebagian orang menyebutnya "Linggajati"), sebuah desa di dataran tinggi nan sejuk yang masuk wilayah Kabupaten Kuningan. Di tahun 1918, dia masih tinggal di sebuah gubuk. Lalu, sesuatu yang tak terduga tiba-tiba menghampirinya. 

“Datang seorang Belanda dari Tersana, ia mencintai Ibu Jasitem, sehingga ia diambil selir orang Belanda tersebut,” tulis Solichin Salam dalam Arti Linggajati Dalam Sejarah(1992). 

Setelah itu, rumah Jasitem pun direnovasi dengan biaya suaminya pada 1921. Dari sebuah gubuk menjadi rumah separuh tembok—yang lebih elok dipandang mata orang Belanda kala itu. Beberapa waktu kemudian, dua sejoli beda bangsa itu pindah ke tempat sang suami bekerja. Sementara itu, rumah dan tanah dijual kepada seorang Belanda bernama van Ost Doom. 

Sekitar tahun 1930, menurut majalah Dharmasena, Bagian 15 (1989), “rumah tersebut diperbesar dan dipermanentkan oleh pemiliknya yang baru.” Hetker, seorang Belanda lain, menyewa rumah besar itu dan dijadikan Hotel Rustoord. Pada masa pendudukan Jepang sempat dinamai Hokai Ryokai. Setelah proklamasi berubah nama lagi menjadi Hotel Merdeka. 

Hotel Merdeka, menurut Solichin Salam, sempat menjadi Markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 1945. Bangunan itu berada dalam pengawasan Residen Cirebon. Kala itu, Residen Cirebon adalah Hamdani, kawan sekolah Sjahrir di Algemeene Middelbare School (AMS). Di awal kemerdekaan, Sutan Sjahrir adalah Perdana Menteri Republik Indonesia. Tak hanya Hamdani, Bupati Cirebon Makmun Sumadipradja juga kawan Sjahrir. Mantan Bupati Kuningan era kolonial, Mohammad Ahmad, yang merupakan kawan Haji Agus Salim, juga kolega Sjahrir. 

Pada 1946, Perdana Menteri Sjahrir (14 November 1945 - 3 Juli 1947) berusaha menyelesaikan sengketa wilayah dengan Belanda. Sebagai negara yang ingin beradab, Indonesia pun memilih berunding dengan Belanda. Bukan hanya berperang. 

Semula Jakarta dipilih sebagai tempat perundingan. Namun, menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Volume 1 (2004), pihak Republik tak bersedia berunding di Jakarta, karena sudah dikuasai tentara Sekutu. Yogyakarta yang sudah jadi ibukota (sementara) Republik Indonesia, tidak dikehendaki Belanda. “Lalu diambil jalan tengah. Tempatnya di Linggarjati, dekat Cirebon,” tulis Rosihan. 

Desa Kecil untuk Perjanjian Besar

Cirebon pun sibuk. Di pelabuhan, kapal perang Bankcert pasang jangkar. Kapal itu menjadi penginapan bagi delegasi Belanda. Sementara itu, delegasi Indonesia menginap di penginapan Linggasama, yang letaknya di desa sebelah Linggarjati. Sementara itu, rumah Bupati Kuningan pun jadi penginapan sementara Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. 

Lantaran Cirebon tiba-tiba jadi ramai, mau tidak mau penjagaan di daerah itu harus diperketat. Hal ini dilakukan untuk menghindari insiden yang bisa saja juga merugikan dan bikin malu Indonesia. Pasukan dari Jawa Timur bahkan juga didatangkan untuk keamanan. 

“Menjelang akan diadakannya perundingan antara Indonesia-Belanda di Linggarjati, maka sebagian dari pasukan Kapten Abdullah dikirimkan ke Cirebon untuk melakukan tugas pengawalan. Pasukan ini dipimpin sendiri oleh Kapten Abdullah,” tulis Radik Djarwadi dalam Pradjurit Mengabdi (1959). 

Residen Hamdani juga turut sibuk. Dia menyambut delegasi Belanda yang mendarat dari penginapannya. Mereka harus bolak-balik kota Cirebon-Linggarjati. 


Dalam perundingan yang berlangsung dari 11 November hingga 14 November 1946 ini, terdapat 17 pasal yang dibahas. Hal yang tidak menyenangkan dari perundingan ini untuk Indonesia adalah harus menerima kenyataan wilayahnya tinggal Jawa, Sumatra, dan Madura. Sudah hilang banyak wilayah, Indonesia harus pula ikut dalam Persemakmuran Indonesia-Belanda. Dan batas waktu tentara Belanda bercokol di wilayah Indonesia paling lambat 1 Januari 1949. 

Beberapa orang menganggap, disepakatinya Perundingan Linggarjati adalah kebodohan besar. Membiarkan wilayah Indonesia hilang sejengkal adalah kesalahan fatal. Tapi yang jadi pertimbangan delegasi Indonesia adalah kekuatan militer Belanda yang hebat dan militer Indonesia yang apa adanya. Sukarno sadar keadaan itu. Risikonya, jika perundingan macet, perang akan terjadi lagi. 

🎱


“Resikonya amat besar, di mana akan jatuh korban dan jiwa yang amat besar di kalangan rakyat dan Republik Indonesia bisa dipaksa melalui kekuasaan militer itu,” tulis Rushdy Hoesein dalam Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati(2010). 

Suka atau tidak, Indonesia mesti menandatangani perundingan Linggarjati itu di Istana Merdeka, Jakarta, pada 15 November 1946—tepat hari ini 71 tahun lalu. Risiko terbesar ditanggung Perdana Menteri Sjahrir: ia disalahkan oleh oposisinya. 

Kaum militer dan pengikut Tan Malaka juga tak suka perundingan Linggarjati disepakati. Bagi Tan Malaka, berunding dengan Belanda sama saja "berunding dengan maling yang hendak mencuri di rumah kita." 

Akhirnya, Republik Indonesia meratifikasi perundingan itu pada 5 Maret 1947. Dan Kabinet Sjahrir pun berakhir pada 3 Juli tahun itu juga. 

Belanda Mengkhianati Perjanjian

Lewat perundingan itu, menurut Rushdy Hoesein, “yang utama adalah pengakuan internasional pada kemerdekaan Indonesia, sekaligus membuka topeng Belanda yang ingin kembali menjajah, yang terang-terangan berlawanan dengan semangat kemerdekaan pasca Perang Dunia II.” 

Topeng Belanda itu akhirnya terkuak. Masa-masa gencatan senjata di sekitar perundingan Linggarjati malah dijadikan fase "mengatur nafas" bagi militer Belanda. Mereka jelas sedang menyiapkan sesuatu.

Beberapa minggu setelah Sjahrir tak jadi Perdana Menteri lagi, Belanda menyatakan tak terikat dengan Linggarjati pada 20 Juli 1947. Esoknya, 21 Juli, mereka melancarkan serangan tiba-tiba ke wilayah kekuasaan Republik. Serangan yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I.

Perundingan di bekas rumah Jasitem itu pun gagal menghasilkan perdamaian. Dan Linggarjati dikenang orang-orang Indonesia sebagai perjanjian tak adil yang kemudian dikhianati pihak yang sebetulnya sudah untung dari perundingan itu. 

Rabu, 15 November 2017

Zaman Batu Madya/Tengah (mesolitikum)

Pada zaman batu tengah (mesolitikum)alat alat bati zaman ini sebagian sudah di haluskan terutama bagian yang dipergunakan. tembikar juga sudah di kenal periodr ini juga di sebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut,pendukung kebudayaan ini masih homo sapiens (manusia sekarang) yaitu ras austromelanosoid (mayoritas) dan mongoloid (minoritas)ciri cir batu tengah adalah peralatan masih terbuat dari batu atau tulang yang masih kasar.jenis alat yang di gunakan adalah peblel kapak sumatra

Walk Out Legendaris yang Dilakukan NU-PPP di Era Orde Baru



Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) hasil Sidang Umum MPR 1978 menetapkan dua hal yang bikin kecewa kalangan Islam: mengakui aliran kepercayaan sejajar dengan agama-agama resmi dan mewajibkan indoktrinasi ideologi negara secara massal lewat Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). 
Anggota MPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang tergabung dalam Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) menolak dua poin tersebut. PPP adalah partai yang saat itu masih berasas Islam. Setelah kebijakan fusi partai diberlakukan pemerintah pada 1974 (dari 9 menjadi 2 partai plus Golkar yang dianggap “bukan partai” tapi mengikuti Pemilu), PPP adalah satu-satunya representasi Islam dalam panggung politik. 
Dua poin itu memang sensitif bagi umat Islam. Pengakuan resmi terhadap aliran kepercayaan dianggap merendahkan Islam sebagai agama. Sementara indoktrinasi Pancasila dikhawatirkan bisa “mengganti” posisi agama dalam kehidupan masyarakat.

Seperti diungkap Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru (1994), K.H. Bisri Syansuri memandang keputusan tersebut sebagai “ancaman terhadap status Islam sebagai agama dan memprotesnya dengan keras” (hlm. 106). Sebagai Presiden Majelis Syuro PPP sekaligus ulama NU terkemuka, pendapat Kiai Bisri tentu sangat berpengaruh dan banyak diikuti para kader PPP.
Kiai Bisri sendiri sebenarnya bukan tipikal ulama yang terlalu peduli politik. Perhatian dan pertimbangannya lebih tertuju kepada persoalan keagamaan dan keumatan. Ia dikenal tidak memiliki naluri politik dan keluwesan yang dibutuhkan untuk memimpin sebuah partai. Penalaran dan dasar keputusannya selalu berlandaskan prinsip fiqh (hukum Islam) alih-alih kepentingan politik. 
Sebagaimana lazimnya ulama nahdliyin, ia pun lebih memilih menghindari konflik dengan pemerintah. Tetapi, menurut Bruinessen, “dia menolak bersikap kompromi apabila menyangkut prinsip agama” (hlm. 104).
Maka, ketika mengetahui pemerintah mengesahkan dua poin tersebut, Kiai Bisri murka. Tak biasanya ia terlihat semarah itu dan sampai memutuskan sesuatu yang jarang ia lakukan: mengeluarkan pendapat politik.

Dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003), Greg Barton mengungkapkan, “Tahun berikutnya [1978], NU dan PPP memiliki kesempatan lebih lanjut untuk menunjukkan independensi politik mereka. Kiai Bisri marah dengan dua keputusan yang muncul dari parlemen” (hlm. 114). 

Ketidaksukaan Kiai Bisri dan kalangan Islam bisa dipahami sebagai ketidaksetujuan terhadap indoktrinasi P4, bukan pada Pancasila itu sendiri. Dalam indoktrinasi itu, tertangkap kesan soal relativisme agama yang menyatakan semua agama diakui sama benarnya dan bahkan menyejajarkan aliran kepercayaan dengan agama-agama resmi. 
Sensitivitas Kiai Bisri dan orang-orang PPP sebenarnya berkaitan erat dengan kebijakan Soeharto terhadap Islam dan represinya kepada aspirasi politik umat Islam. Pada dekade 1970-an, Orde Baru bukan hanya dianggap tidak memberi proporsi yang layak namun juga malah meminggirkan aspirasi politik Islam. Padahal, peran kalangan Islam dinilai cukup besar dalam melahirkan Orde Baru -- khususnya dalam pemberangusan PKI sebagai poros penting kekuatan politik Orde Lama.
Diungkapkan lebih lanjut oleh van Bruinessen, “Kepekaan umat Islam dapat dimengerti lebih baik jika orang ingat bahwa umat Kristen terlalu banyak duduk di elite kekuasaan dan karena Soeharto sendiri dan para penasehat terdekatnya dipercaya sebagai penganut Aliran Kepercayaan dan tidak simpatik terhadap Islam skripturalis” (hlm. 106). 
Tepat di masa itu pula, banyak kalangan Islam menganggap Pancasila sebagai produk aliran kepercayaan yang tidak sesuai syariat. Dan Soeharto, yang saat itu sudah menampakkan tanda-tanda sebagai “penafsir tunggal Pancasila”, dikhawatirkan akan memaksakan ideologi negara itu sebagai pengganti agama.x

Selasa, 14 November 2017

Zaman Batu Tua

Zaman batu tua (paleotikum) ,disebut demikian sebab alat alat batu buatan manusia masih di kerjakan secara kasar.tidak di asah atau di polis.apabila di lihat dari sudut mata pencaharian nya periode ini di sebut zaman berburu dan meramu makanan tingkat sederhana.pendukung zaman ini adalah homo erectus. ciri ciri zaman batu tua adalah
berpola kehidupan meramu tumbuh tumbuhan menangkap ikan dan berburu binatang.pola hidup seperti ini adalah food gathering.peralatan yang di buat oleh batu atau tulang yang masih kasar jenis alat yang di hasilkan adalah
kapak genggam kapak berimbas,dan alat serpih (berpindah pindah)dan belum mengenal alat serpih.



sejarah pki,

sejarah indonesia,

sejarah islam,

sejarah nabi,

sejarah lubang buaya,

sejarah soekarno,

sejarah banten,

sejarah mungkin berulang,

sejarah psht,

sejarah nabi muhammad,

sejarah,

sejarah aceh,

sejarah agama,

sejarah arema,

sejarah agama hindu,

sejarah agama islam,

sejarah arung palakka,

sejarah alas roban,

sejarah agama kristen,

sejarah air zam zam,

sejarah atlantis,

sejarah bung karno,

sejarah bali,

sejarah bonek,

sejarah borobudur,

sejarah bandung,

sejarah brimob,

sejarah batak,

sejarah bumi,

sejarah bogor,

sejarah b,

sejarah candi borobudur,

sejarah cinta kita,

sejarah candi prambanan,

sejarah catalunya,

sejarah coc,

sejarah cinta,

sejarah cakrabirawa,

sejarah catalan,

sejarah converse,

sejarah cianjur,

sejarah c ronaldo,

sejarah dunia,

sejarah danau toba,

sejarah dinosaurus,

sejarah doraemon,

sejarah dajjal,

sejarah di tii,

sejarah dewa 19,

sejarah dayak,

sejarah demak,

sejarah dieng,

d'paspor sejarah cintaku,

sejarah monkey d dragon,

d'paspor band sejarah cintaku,

sejarah eyang suro,

sejarah eropa,

sejarah ekonomi,

sejarah emas,

sejarah endank soekamti,

sejarah ekonomi islam,

sejarah emas monas,

sejarah exo,

sejarah empu gandring,

sejarah eyang semar,

e guru sejarah,

sejarah firaun,

sejarah filsafat,

sejarah fpi,

sejarah freeport,

sejarah facebook,

sejarah film pki,

sejarah fnaf,

sejarah fourtwnty,

sejarah film naruto,

sejarah filipina,

sejarah gunung krakatau,

sejarah gunung agung,

sejarah gunung lawu,

sejarah gunung merapi,

sejarah garut,

sejarah gunung kawi,

sejarah gajah mada,

sejarah gunung kelud,

sejarah gunung slamet,

sejarah gorontalo,

sejarah g 30 s pki,

sejarah hmi,

sejarah hindu,

sejarah hercules,

sejarah honda,

sejarah hello kitty,

sejarah hari santri,

sejarah habibie,

sejarah hajar aswad,

sejarah hantu,

sejarah hari kesaktian pancasila,

sejarah h,

sejarah indramayu,

sejarah iwan fals,

sejarah islam nusantara,

sejarah islam indonesia,

sejarah iks pi,

sejarah ir soekarno,

sejarah islam di dunia,

sejarah indonesia sebelum merdeka,

sejarah jawa,

sejarah jendral sudirman,

sejarah jepang,

sejarah jenglot,

sejarah jambi,

sejarah jawa kuno,

sejarah jogja,

sejarah jawa tengah,

sejarah jokowi,

sejarah jaka tingkir,

sejarah kemerdekaan indonesia,

sejarah kerajaan majapahit,

sejarah kota tua,

sejarah kalimantan,

sejarah kian santang,

sejarah kristen,

sejarah kebudayaan islam,

sejarah kelahiran doraemon bahasa indonesia,

sejarah kerajaan pajajaran,

sejarah kfc,

sejarah k,

sejarah lampung,

sejarah lawang sewu,

sejarah lingsir wengi,

sejarah lombok,

sejarah lagu nina bobo,

sejarah letusan gunung agung,

sejarah ldii,

sejarah lahirnya pancasila,

sejarah lumpur lapindo,

sejarah l,

sejarah majapahit,

sejarah mimi peri,

sejarah mitos,

sejarah monas,

sejarah manusia,

sejarah manusia purba,

sejarah madura,

sejarah muhammadiyah,

sejarah mobile legend,

sejarah m,

sejarah nyi roro kidul,

sejarah nabi adam,

sejarah nabi sulaiman,

sejarah nusantara,

sejarah nekopoi,

sejarah nabi isa,

sejarah nabi musa,

sejarah nabi nuh,

sejarah guns n roses,

sejarah rock n roll,

sejarah orang batak,

sejarah orde baru,

sejarah oppo,

sejarah orde lama,

sejarah orang sunda,

sejarah orang bugis,

sejarah ottoman,

sejarah ondel ondel,

sejarah opm,

sejarah om monata,

sejarah prabu siliwangi,

sejarah pancasila,

sejarah pramuka,

sejarah pulau jawa,

sejarah persib,

sejarah pagar nusa,

sejarah persija,

sejarah pmii,

sejarah hidup p.ramlee,

buku sejarah p ramlee,

sejarah p ramlee,

sejarah qunut,

sejarah quipper,

sejarah queen,

sejarah quipper video,

sejarah qatar,

sejarah qnet,

sejarah quran,

sejarah qarun,

sejarah qiraat,

sejarah qorun,

tony q sejarah,

sejarah tony q rastafara,

sejarah reog ponorogo,

sejarah real madrid,

sejarah rokok,

sejarah ratu pantai selatan,

sejarah rasulullah,

sejarah rusia,

sejarah rangkasbitung,

sejarah ronggolawe,

sejarah ronaldo,

sejarah rohingya,

sejarah ninja r,

sejarah r.a kartini,

sejarah fiz r,

sejarah sumpah pemuda,

sejarah sunda,

sejarah supreme,

sejarah syiah,

sejarah soeharto,

sejarah sh winongo,

sejarah surabaya,

sejarah semar,

sejarah sunan gunung jati,

sejarah 30 s pki,

sejarah hidup rasulullah s.a.w,

sejarah s,

sejarah benyamin s,

sejarah tni,

sejarah tanah jawa,

sejarah titanic,

sejarah timor leste,

sejarah tasikmalaya,

sejarah turki,

sejarah tahlilan,

sejarah tapak suci,

sejarah tegal,

sejarah tulungagung,

sejarah t,

sejarah uang,

sejarah uni soviet,

sejarah upin ipin,

sejarah uud 1945,

sejarah umar bin khattab,

sejarah ujung kulon,

sejarah ultras,

sejarah ultraman,

sejarah ustad somad,

sejarah ulang tahun,

sejarah vespa,

sejarah viking,

sejarah vans,

sejarah voc,

sejarah valentino rossi,

sejarah vivo,

sejarah valentine,

sejarah vespa kongo,

sejarah virus,

sejarah vampire,

sejarah wali,

sejarah walisongo,

sejarah wali 9,

sejarah wayang,

sejarah wonosobo,

sejarah warkop dki,

sejarah wayang golek,

sejarah wonogiri,

sejarah wan sehan,

sejarah watu ulo,

sejarah xiaomi,

sejarah xtc,

sejarah xbox,

sejarah xtc bandung,

sejarah xtc vs brigez,

sejarah xtc kembar,

sejarah xtc dan brigez,

sejarah indonesia kelas x,

materi sejarah kelas xii,

sejarah sisingamangaraja xii,

sejarah tipe x,

sejarah peminatan kelas x,

sejarah supra x,

vlog sejarah x iis 2,

sejarah band tipe x,

sejarah yahudi,

sejarah yunani,

sejarah youtube,

sejarah yerusalem,

sejarah yunani kuno,

sejarah yang hilang,

sejarah yamaha,

sejarah yakuza,

sejarah yang disembunyikan,

sejarah yogyakarta,

sejarah zaman dahulu,

sejarah zombie,

sejarah zilong,

sejarah zhao yun,

sejarah zetsu hitam,

sejarah jaman dulu,

sejarah zaman batu,

sejarah zionis,

sejarah zetsu hitam sub indo,

sejarah zidane,

sejarah 10 november,

sejarah 1998,

sejarah 17 agustus,

sejarah 1945,

sejarah 17 agustus 1945,

sejarah 10 muharram,

sejarah 1 muharram,

sejarah 1998 semanggi,

sejarah 1948,

sejarah 12 shio,

form 1 sejarah,

tingkatan 1 sejarah,

sejarah stpm penggal 1,

sejarah tingkatan 1 bab 9,

sejarah perang dunia 1,

sejarah tingkatan 1 bab 8,

sejarah tingkatan 1 bab 7,

sejarah tingkatan 1 bab 10,

sejarah tingkatan 1 bab 3,

sejarah tingkatan 1 bab 11,

sejarah 25 nabi,

sejarah 22 oktober,

sejarah 22 oktober hari santri,

sejarah 234 sc,

sejarah 25 nabi dan rasul,

sejarah 25 nabi dan rasul lengkap,

sejarah 28 oktober,

sejarah 25 nabi dan rasul perisai quran,

sejarah 28 oktober sumpah pemuda,

sejarah 25 nabi secara singkat,

form 2 sejarah,

sejarah tingkatan 2 bab 8,

sejarah perang dunia 2,

sejarah tingkatan 2 bab 1,

sejarah tingkatan 2 bab 6,

sejarah tingkatan 2 bab 3,

sejarah dota 2,

sejarah bab 2,

sejarah hero dota 2,

sejarah spm kertas 2,

sejarah 3 agama besar,

sejarah 30 september,

sejarah 30 pki,

sejarah 30,

sejarah 30 s/pki,

sejarah 30 s pki 1965,

sejarah 30 september 1965,

sejarah 30 september pki,

sejarah 3 agama terbesar,

3 sejarah agama besar,

kertas 3 sejarah,

majalah 3 sejarah,

sejarah tingkatan 3,

sejarah stpm penggal 3,

sejarah paper 3,

sejarah tingkatan 3 bab 1,

sejarah kertas 3 spm 2016,

sejarah bab 3,

sejarah tingkatan 3 bab 7,

sejarah 420,

sejarah 45,

sejarah 4 imam mazhab,

sejarah 4 mazhab,

sejarah 47 ronin,

sejarah 4 imam,

sejarah 48,

sejarah 4 imam besar,

sejarah 4 kitab,

sejarah 4 brother,

form 4 sejarah,

tahun 4 sejarah,

tingkatan 4 sejarah,

sejarah spm tingkatan 4,

sejarah tingkatan 4 zaman renaissance,

sejarah tingkatan 4 bab,

sejarah tingkatan 4 eduwebtv,

sejarah tingkatan 4 lagu,

sejarah 5 oktober,

sejarah 5 agama,

sejarah 5 pandawa,

sejarah 5 oktober hari tni,

sejarah 5 agustus,

sejarah 5 hari di semarang,

sejarah tingkatan 5,

sejarah tingkatan 5 bab 9,

sejarah tingkatan 5 bab 1,

sejarah form 5,

5 sejarah palsu,

5 sejarah di dunia,

form 5 sejarah,

tingkatan 5 sejarah,

sejarah tahun 5,

sejarah tingkatan 5 bab 8,

sejarah tingkatan 5 bab 3,

sejarah tingkatan 5 bab 7,

sejarah tingkatan 5 bab 6,

sejarah 65,

sejarah 666,

sejarah tahun 6,

sejarah bab 6 tingkatan 4,

sejarah bab 6,

sejarah tingkatan 6,

sejarah bab 6 tingkatan 2,

sejarah bab 6 tingkatan 5,

sejarah bab 6 tingkatan 1,

sejarah darjah 6,

sejarah tahun 6 2016,

sejarah nabi ke 6,

sejarah tingkatan 6 penggal 3,

sejarah band 6,

sejarah nabi 6,

sejarah 7 jendral,

sejarah 7 manusia harimau bengkulu,

sejarah 7 jenderal lubang buaya,

sejarah 7 manusia harimau,

sejarah 7 pahlawan revolusi,

sejarah 7 wali bugis,

sejarah 7 manusia harimau asli,

sejarah 7 wali,

sejarah 7 pahlawan,

sejarah 7 bidadari,

7 sejarah indonesia,

7 sejarah naruto,

7 sejarah di indonesia,

7 sejarah menyeramkan dibalik topeng,

sheila on 7 sejarah,

trans7 sejarah islam,

sejarah bab 7,

7 penemuan sejarah paling misterius,

sejarah f4 bab 7,

sejarah wali 7,

sejarah 86,

sejarah 8.4 tingkatan 2,

sejarah 8 ball,

sejarah bab 8,

sejarah bab 8 tingkatan 4,

sejarah bab 8 tingkatan 2,

sejarah bab 8 tingkatan 5,

sejarah bab 8 tingkatan 1,

sejarah bab 8 form 5,

sejarah densus 88,

sejarah kbm part 8,

sejarah nabi ke 8,

sejarah 98,

sejarah 9 wali,

sejarah 9 naga,

sejarah 9 wali allah,

sejarah 9 dotu minahasa,

sejarah 911,

sejarah 98 prabowo,

sejarah 9 sunan,

sejarah bab 9 tingkatan 4,

sejarah bab 9 tingkatan 5,

bab 9 sejarah,

sejarah tingkatan bab 9,

sejarah kelok 9,

sejarah f4 bab 9,

sejarah bab 9 form 5,

sejarah bab 9 form 4,

sejarah bab 9 f5

Pengabdian Badan Pengawas Pemilu Surabaya 2020

Pengabdian Badan Pengawas Pemilu Surabaya 2020 Desember 26, 2020 Pengabdian untuk Negara di Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) (ahmad sodiq ana...